Senin, 18 Februari 2013

Alila


Alila

Alila terlihat sibuk dengan tumpukan buku-buku yang dibawanya, wajahnya nampak lelah mungkin karena begitu banyak buku yang di bawanya.
“Aduh banyak banget ini bukunya, mana berat lagi.” Keluh Alila. “Shalat dulu aja deh.” Lanjutnya.
Alila pun menunaikan shalat ashar, di dalam masjid hanya nampak beberapa orang yang sedang menunaikan shalat ashar, karena para murid sudah pulang.
Alila melanjutkan tugasnya untuk membawa tumpukan buku-buku yang dibawanya hingga kerumahnya. Langit sore ini masih nampak terik, sisa-sisa panas siang tadi masih terasa di sore ini. Peluh pun membanjiri wajah cantik Alila dan hijabnya. Ponselnya bergetar, terlihat kontak yang menghubunginya ‘Umi’ Alila segera menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum Umi.” Salam Alila dengan susah payah karena menahan beban tumpukan buku-buku yang dibawanya.
“Wa’alaikumsalam Lila .Kamu dimana nak?”
“Alila lagi dijalan pulang umi, maaf ya Lila gak ngabarin Umi.”
“Iya nak, yaudah kamu hati-hati ya di jalan, jangan lupa berdo’a ya nak.”
“Iya umi. Yaudah Assalamu’alaikum Mi.” Tutupnya dengan lembut. Alila memutuskan sambungan telponnya. Dia menunggu angkot yang sedari tadi di tunggunya, namun tak kunjung datang.
“Aduh lama banget sih angkotnya, aku udah cape banget ini.” Keluh Alila. Nampak jelas wajah Alila sore ini, peluh pun mulai membasahi kembali wajah cantiknya, “Alhamdulillah akhirnya dateng juga.” Seketika itu pun wajah Alila berubah senang, karena angkot yang ditunggunya daritadi akhirnya datang juga.

***

Hujan deras nampaknya tidak di hiraukan oleh Alila, dirinya masih sibuk dengan tumpukan buku-buku yang tadi sore di bawanya, ia terlihat menikmati satu persatu buku yang dibacanya, dan ternyata itu adalah buku dari murid-murid tempat dirinya mengajar. Alila adalah seorang guru yang baru lulus tahun ini dan mengajar di salah satu Taman Kanak-kanak yang baru di buka juga tahun lalu, latar belakang pendidikan sebagai guru bahasa inggris dan ketertarikannya pada dunia anak membuat Alila memutuskan untuk mengajar di Taman Kanak-kanak, walaupun Umi dan Abinya menginginkan Alila mengajar di Sekolah Menengah Atas sebagai guru bahasa inggris.
“Aku jadi kangen Rafa deh.” Ujarnya lirih, “Dia apa kabar ya, eh tapi nanti …” Alila tidak melanjutkan ucapannya.
Alila mengambil ponselnya, mencoba mencari kontak yang akan di hubunginya, tangannya berhenti pada sebuah nama di kontak ponselnya ‘Trisan’.
To ; Trisan
Assalamu’alaikum J
Alila harap-harap cemas menunggu balasan dari Trisan. Matanya terus menatap layar ponselnya.
Trisan adalah salah satu mantan pacar Alila saat masih kuliah dulu, walaupun mereka sudah cukup lama putus, tetapi mereka tetap bersilahturahmi dan berkomunikasi dengan baik, walau lebih sering Alila yang menghubungi Trisan.
Ponsel Alila bergetar, dilihatnya ada balasan pesan singkat dari Trisan.
From ; Trisan
Wa’alaikumsalam Alila J
Dengan cepat Alila membalas pesan singkat dari Trisan.
To ; Trisan
Kamu lagi apa? Hehee
From ; Trisan
Aku lagi nyelesaiin kerjaan aku nih, kamu lagi apa ibu guru?
To ; Trisan
Aku lagi liat gambar-gambar anak murid aku nih, ih kamu apa deh ehehee
Alila lupa waktu jika sudah berinteraksi dengan Trisan.
“Astgahfirullah aku lupa, aku belum shalat ya ini.” Jam dinding di kamar Alila menunjukkan pukul 10 malam. Segera Alila beranjak dari tempat tidurnya yang dipenuhi dengan buku-buku anak muridnya untuk berwudhu.
Alila terlihat begitu khusyuk dalam shalatnya.
Butiran bening sebesar biji jagung membasahi pipi lembut Alila, mata beningnya begitu deras mengerluarkan cairan bening, Alila terisak suaranya begitu lirih saat berdo’a, wajahnya yang menengadah keatas begitu serius memohon ampun atas dosa-dosa yang di perbuatnya, dan disetiap do’anya selalu terselip nama Trisan, dimana Alila berharap Trisan adalah jodohnya kelak.
***

Pagi ini mataharinya terllihat mengintip dibalik awan yang mengabu-ngabu, langit Jakarta pagi ini tidak membiru tetapi mendung cenderung mengabu-abu mungkin karena hujan deras sepanjang malam tadi. Bau bumi yang basah pun sangat jelas tercium oleh mereka yang sibuk dengan aktivitas di pagi harinya. Dari kejauhan nampak seorang gadis dengan hijab biru dongkernya dan wajah berserinya berjalan ditrotoar yang mulai di penuhi pedangang kaki lima. Langkah kakinya semakin cepat, saat dia melihat jam tangan di tangannya menunjukkan pukul 06.30.
“Semoga aku gak telat.” Harapnya dalam hati.
               Lima belas menit sebelum masuk Alila sudah tiba di tempatnya mengajar.
               “Ibu Alila.” Terdengar suara melengking seorang anak memanggil Alila dari kejauhan. Alila yang sedang berjalan menuju kantor guru pun menghentikan langkahnya seketika dan membalikan badannya untuk mencari suara itu berasal. Dilihatnya sala seorang muridnya yang bernama Ditya Prasmeri Wijaya, berlari kecil kearahnya, diikuti seorang pria yang usianya nampak tidak jauh berbeda dengan Alila. Alila tersenyum kearah Ditya.
               “Assalamu’alaikum Ditya.” Sapanya dengan lembut di ikuti senyumnya yang begitu tulus.
               Ditya mencium tangan Alila, dan menjawab salamnya “Wa’alaikumsalam ibu, ibu aku semalam buat gambar Barney bu terus aku …” Belum sempat Ditya  melanjutkan ceritanya, pria yang sedari tadi berjalan di belakang Ditya memotong celotehannya.
               “Ditya.” Panggil pria itu, Ditya pun langsung menghentikan ucapannya.
               “Iya om.” Sahut Ditya yang nampak kesal. Alila yang melihat perubahan ekspresi Ditya secara tiba-tiba hanya tersenyum. Dilihatnya pria tersebut, Alila hanya melemparkan senyumnya dan menganggukan kepalanya, sapaan khasnya.
               “Maaf ya Bu Ditya agak bawel.” Ujar pria tersebut.
               “Oh iya, nggak apa-apa.”
               “Om sampe disini aja ya, aku kekelasnya sama Bu Alila” Ujar Ditya, yang kemudian menggandeng tangan Alila.
               “Yaudah kamu jangan nakal ya, Bu nanti kalo Ditya nakal jewer aja. Om pulang dulu ya.” Ujar pria itu di ikuti senyumnya ke arah Alila. Alila menanggapinya hanya dengan senyuman.
               Alila pun mengantar Ditya ke kelas.

***

               Hujan mulai turun, matahari yang seharusnya terik di siang ini nampak malu-malu, hanya bisa bersembunyi dibalik awan yang mengabu-abu. Suara riuh anak-anak di Taman Kanak-kanak Pertiwi mengalahkan suara derasnya hujan, para orang tua murid yang satu persatu menjemput mereka lambat laun suara riuh itu pun hilang, kini hanya terlihat beberapa anak-anak yang sedang menunggu untuk dijemput.
               Alila yang sedari sibuk membereskan buku-buku dan bangku-bangku dikelas napak kelelahan. Dilihatnya seorang anak yang berdiri di depan kelas, dengan wajah polosnya anak tersebut hanya sibuk memutar-mutar botol minumnya.
               “Ditya kamu lagi apa disini sayang?” Tanya Alila dengan lembutnya.
               “Aku lagi nunggu di jemput om aku bu.” Jawabnya polos.
               “Loh emang nenek kamu kemana? Kok om kamu yang jemput?”
               “Nenek aku lagi sakit bu, jadi om Rifat deh bu yang jemput aku.”
               Saat Alila dan Ditya sedang berbincang, tiba-tiba orang yang sedang mereka bicarakan telah muncul secara tiba-tiba.
               “ehemm maaf.” Sapanya
               Alila sempat terkejut akan kedatangan Rifat.
               “Ah iya pak.” Ujar Alila sedikit kaku.
               “Maaf bu, jadi nungguin Ditya begini.”
               “Oh iya tidak apa-apa kok pak, kebetulan saya juga masih beres-beres di kelas, kebetulan saya melihat Ditya sendirian di luar kelas.” Jelas Alila dengan lembut.
               Tanpa banyak bicara lagi, Rifat yang tidak lain adalah om dari Ditya hanya membalas ucapan Alila dengan senyumnya.
“Ayo Ditya kita pulang.” Rifat menggandeng tangan Ditya kemudian, “Mari bu.” Tutupnya seraya meninggalkan Alila.
Alila melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Selesai menyelesaikan pekerjaanya Alila segera menunaikan shalat zuhur yang belum sempat ia tunaikan.
Usai mengajar Alila memutuskan pergi ke sebuah toko buku yang jaraknya tak jauh dari tempatnya mengajar. Sisa-sisa hujan siang tadi menyisakan kubangan air yang tergenang di pinggir jalan.

***

“Nah ini dia buku yang aku cari, akhirnya ketemu juga.” Ujar Alila sambil mengambil buku yang dicarinya.
“Alila?” Panggil seorang wanita seraya menepuk punggung Alila.
“Astaghfirullah.” Alila menengok ke wanita tersebut dengan ekspresi yang masih terkejut.
“Aduh maaf maaf La, aku ngagetin kamu ya?”
“Masya Allah Kak Rahmi, aku kira siapa.”
“Iya maaf ya hehe. Kamu sama siapa kesini?” Tanya wanita tersebut, yang ternyata bernama Rahmi.
“Aku sendiri aja kak kesini, kakak sama siapa kesini?”
“Aku juga sendiri aja. Ya ampun sampe lupa nanya kabar kamu, apa kabar kamu?”
“Alhamdulillah baik kak. Kakak gimana?”
“Alhamdulillah baik juga La, makin Jamillah aja kamu.”
“Alhamdulillah kak. Kakak juga, duhh udah lama yaa kita nggak ketemu, kebetulan banget ya kak kita ketemu disini, aku kangen banget loh sama kakak.”
“Aku juga kangen sama kamu. Gimana kalo kita ngobrol-ngobrol dulu sambil makan, kamu udah makan apa belum?”
“Ayo kak ayo kebetulan aku lagi laper banget ini kak, tapi aku bayar ini dulu yaa.”
Alila dan Rahmi pun meninggalkan toko buku tersebut, dan banyak hal yang mereka bicarakan. Rahmi adalah teman majlis ta’lim yang sudah di anggap menjadi kakak bagi Alila, begitu juga sebaliknya. Tetapi semenjak Alila sibuk dengan skripsinya, Alila sudah jarang mengahadiri maj’lis ta’lim yang di dalamnya remaja muslimah yang juga mempunyai komunitas “Muslimah Berhijab”.
“Kamu sudah mengajar La?” Tanya Rahmi.
“Alhamdulillah sudah kak.”
“Kapan nih mau nyusul aku. Kalo sudah berumah tangga tentram loh La.”
Pertanyaan Rahmi membuat Alila terdiam sejenak, tiba-tiba di pikirannya muncul satu nama ‘Trisan’ Alila berharap Trisan lah yang menjadi imamnya kelak, namun pada kenyataannya sampai saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa Trisa akan menikahinya walau mereka tidak berpacaran.
“Kok kamu diam La? Aku salah ya nanyanya?”
“Ah eh enggak kok kak, aku bingung kalo ditanya kayak gitu ehehehee punya pacar aja nggak siapa juga yang mau ngajak nikah aku.” Ujar Alila dengan polosnya.
“Pacaran? Kenapa harus pacaran pilihan kamu? Aku sama suami ku gak pernah pacaran, kita langsung menikah setelah ta’aruf.” Ujar Rahmi panjang lebar.
“Aduh aku suka bingung kak, kalo udah bahas soal pernikahan, aku ikutin alurnya aja, gimana Allah ngasih jodohnya ke aku.”
“Aduh dasar ya kamu, yaudah aku doain semoga kamu cepet dapet jodoh yaa. Oh iya kamu masih berhubungan sama siapa tuh, ehhmm Trisan ya, iya kan?”
Alila mendadak tersenyum malu-malu saat nama Trisan disebutkan.
“Iya Alhamdulillah masih kak. Kenapa kak emangnya?”
“Kenapa gak minta di lama raja sama dia”
Setiap kalimat yang di ucapkan Rahmi, membuat Alila bingung harus menjawabnya seperti apa. Sikap Rahmi yang frontal terkadang membuat Alila sering salah tingkah. Alila pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rahmi.


***

Seorang wanita separuh baya terlihat seperti mencari sosok seseorang di antara banyaknya anak-anak TK Pertiwi yang baru saja keluar kelas, satu per satu dari mereka di jemput oleh orang tuanya.
“Nenek.” Panggil seornag anak dari kejauhan sambil berlari ke arah wanita setengah baya tersebut.
Anak tersebut mencium tangan wanita setengah baya itu, dan segera masuk kedalam mobil xenia yang sudah terpakir di depan gerbang sekolah. Namun mobil tersebut bukannya jalan, tetapi ada seorang laki-laki berperawakan gempal turun dari mobil tersebut dan terlihat menuju berjalan masuk kedalam sekolah dan memasuki kantor guru dan menemui salah satu guru yang ada di ruangan tersebut dan memberikan sesuatu pada guru tersebut.
“Nek, kok Pak Ujang kok malah turun sih nek?” Tanya Ditya.
“Iya Pak Ujang ada urusan sebentar di dalam sayang, itu Pak Ujangnya udah kelar.” Ujar Nenek Ditya seraya menunjuk kea rah supirnya tersebut.
“Sudah Pak Ujang?”
“Sudah bu.” Jawab Pak UJjang yang sudah berada di dalam mobil.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan sekolah tersebut.

***

Hingga pukul 00.00 Alila masih belum memejamkan matanya, akhirnya ia memutuskan berwudhu agar bisa tertidur.
Setelah berwudhu Alila membaca surah Al-fatihah, dan An-nas, tak lama setelah itu Alila mulai terlelap. Baru sekitar dua jam Alila tidur, tak lama kemudian dia terbangun kembali untuk menunaikan shalat tahajud dan istikharah.
Alila terlihat sangat khusuyuk dan khidmat. Saat berdoa buliran-buliran bening yang keluar dari matanya tak kunjung berhenti, hanya sesak yang di rasa Alila. Alila menumpahkan semua keluh kesahnya yang dirasa saat ini, keinginannya untuk cepat menikah terus menghantuinya. Hingga datang apa yang menjadi keinginannya, dan Alila mulai merasa bingung apa yang harus ia putuskan. Hingga ia menjalankan shalat istikharah untuk memohon petunjuk.

***

Minggu pagi ini nampaknya cukup cerah, nampaknya Alila masih sibuk dengan mimpinya, nampak sekali tidurnya cukup lelap setelah shalat subuh tadi dia baru saja bisa tidur lelap. Tapi di luar suara umi Alila sudah terdengar mengobrol dengan abinya.
Alila mulai tersadar dari mimpinya.
“Udah pagi yaa, Alhamdulillah.”
Alila berjalan dengan keadaan masih setengah sadar dan keluar kamar. Abi dan umi Alila yang melihat kebiasaan Alila yang sering berjalan dengan kondisi setengah sadar hanya geleng-geleng kepala.
“Liat tuh mi anaknya, dari kecil sampe umurnya 22 sekarang kebiasaanya gak ilang-ilang juga, kalo belum ada barang yang pecah itu matanya belum meleknya full mi.”
“Udah di maklumin aja abi. Umi udah sering bilangin, tapi susah Alilanya buat ngilangin kebiasaanya gitu.”
Keluar dari kamar mandi, nampak wajah Alila basah, sepertinya Alila baru saja mencuci mukanya. Alila menghampiri umi dan abinya yang sedang berada di meja makan.
“Umi abi hehee.” Sapa Alila seraya menuangkan teh kecangkir yang di ambilnya.
Abi dan umi Alila hanya mengerenyitkan kening mereka, melihat sikap Alila yang tidak seperti biasanya.
Umi Alila menghampiri Alila dan memegang kening Alila.
“Kamu sehat kan nak?” Tanya umi Alila cemas.
“Alhamdulillah sehat umi, kok umi nanyanya aneh gitu.”
“Enggak apa-apa.” Ujar umi Alila singkat dan meninggalkan Alila dan abinya ke dapur.
Alila terdiam, tatapannya mengarah kepada abinya yang sedang membaca buku dengan serius. Sadar sedari tadi anaknya melihatnya, sang ayah pun menghentikan membaca bukunya.
“Kenapa La kamu liatin abi kayak gitu.”
“Ehhh nggak apa-apa bi.”
Alila segera meninggalkan abinya, dan masuk kedalam kamar. Didalam kamar Alila mengeluarkan secarik kertas yang berada di dalam amplop coklat, wajahnya cukup serius membaca tulisan tersebut secara berulang kali.
“Ya Allah gimana cara aku kasih tau umi sama abi. Jika memang ini jalan terbaik untuk ku dari-Mu mudahkan lah ya Allah.”
Ponsel Alila berdering, di lihatnya ada panggilan masuk yang ternyata dari Trisan, Alila segera menjawab panggilan tersebut dengan semangat.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam yaa humaira.” Jawab Trisan dengan panggilan menggoda Alila.
“Hehee kamu. Ada apa Tris?”
“Nggak ada apa-apa. Hari ini kamu dirumah atau mau pergi la?”
“Aku dirumah aja, kenapa emangnya Tris?”
“Aku kerumah kamu yaa.”
“Loh tumben ada apa ya?” Tanya Alila dengan nada sedikit heran.
“Nanti juga kamu tau. Yaudah aku mau siap-siap dulu yaa. Kamu pasti belum mandi, mandi gih.”
“Iya, yaudah aku mandi dulu yaa.”
Alila menutu sambungan telpon Trisan, pikirannya semakin tidak karuan. Akhirnya Alila memutuskan untuk mandi.

***

Hingga senja tiba Trisan tak kunjung datang, Alila mulai kecewa diputuskannya dia untuk member tahukan sesuatu hal yang sedari semalam mengganggu pikirannya. Alila menghampiri umi dan abinya yang sedang duduk santai menonton tv. Alila duduk di bangku sebelah kanan dari umi abinya duduk.
“Umi abi, Alila mau ngomong.”
Umi dan abinya Alila saling berpandangan heran. Tangan Alila tidak bisa diam daritadi, nampak sekali dia sedang gugup dan bingung.
“Mau ngomong apa kamu nak?” Tanya umi Alila dengan lembut.
Alila terdiam “Ya Allah mudahkan aku untuk mengucapkan ini.” Alila menarik nafas dalam-dalam.
“Umi abi ada yang mau melamar Alila.” Ujar Alila lirih, dengan wajah tertunduk.
Umi dan abi Alila sontak terkejut, suasana hening seketika.
“Siapa yang berani melamar kamu nak?” Tanya abi Alila dengan nada dingin.
“Ada bi, Alila juga belum kenal orangnya bi, tapi kayaknya dia cukup kenal baik dengan Alila bi.”
“Loh gimana bisa, kamu gak kenal tapi dia kenal kamu. Kamu juga baru aja mengajar, emang kamu udah siap menikah?”
“Kalo ini emang cara Allah ngasih jodoh ke aku, insya Allah aku Alila siap bi.”
Kedua orang tua Alila terdiam, mendengar ucapan Alila.
“Suruh dia temui abi dan umi.”
Tanpa banyak bicara abinya Alila langsung meninggalkan Alila, yang masih terdiam dalam posisinya. Uminya kemudian memeluk Alila yang mulai melihat mata buah hatinya yang berkaca-kaca.
“Bawa dia kesini ya nak.” Ujar umi Alila yang masih dalam posisi memeluk sang anak.

***

From ; Trisan
Aku udah di depan sekolah kamu nih.
Alila segera membalas pesan singkat Trisan.
To ; Trisan
Iya tunggu ya aku udah jalan keluar kok ini
Alila menghampiri Trisan yang sudah menunggunya. Dari kejauhan sudah nampak wajah ceria Alila dengan senyum khas Alila.
“Mau sekarang kerumah akunya?”
“Iya humaira ku. Yaudah cepetan naik, sebelum ujan. Oh iya umi sam abi kamu ada kan? ”
Alila hanya menganggukan kepalanya dan langsung duduk di belakang Trisan.
Sesampainya di rumah Alila, terlihat Umi Alila sedang sibuk memasak makanan, seperti akan ada acara.
“Kamu tunggu dulu ya, umi lagi masak di dapur, aku panggil abi dulu yaa, kamu minum dulu aja yaa.”
“Abi abi.” Panggil Alila seraya mengetuk pintu kamar abinya.
“Iya La tunggu sebentar. Ada apa la? Kamu tumben jam segini udah pulang.” Tanya Abinya Alila hera.
“Iya tadi emang cuma acara makan-makan aja Abi. Oh iya abi, ada yang mau ketemu abi sama umi.”
“Siapa?”
“Udah abi liat aja, nanti juga abi tau.”
“Yaudah tunggu dulu, abi mau ganti baju dulu.”
Alila menghampiri Trisan yang sedang menunggu di ruang tamu, tak lama kemudian kedua orang tua Alila pun datang menemui Trisan. Trisan segera mencium tangan kedua orang tua Alila.
“Oh iya duduk silahkan nak Trisan.” Ujar Abinya Alila seraya mempersilahkan duduk Trisan.
“Iya bi.”
“Jadi ini yang mau ketemu umi sama abi La?” Tanya umi Alila dengan nada sedikit dingin.
“Iya umi.” Jawab Alila dengan senyum manisnya.
“Ada apa nak Trisan mau ketemu abi sam umi?” Tanya Abinya Alila dengan nada sedikit heran.
“Bismillah hirrahman nirrahim. Jadi begini abi umi, maksud dari kedatangan Trisan kesini adalh untuk meminang Alila.”
Suasana ketika menjadi hening. Alila seperti ingin pingsan mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Trisan, air matanya menetes tanpa di sadarinya.
Dengan menarik nafas panjang  Abinya Alila menjawab permintaan Trisan.
“Begini nak Trisan semua keputusan ada di tangan Alila, kami sebagai orang tua hanya memfasilitasi saja, karena kalian yang akan menjalankannya. Alila menurut kamu bagaimana nak?”
Alila masih terdiam, segera ia menghapus air matanya, ditariknya nafas dalam-dalam.
“Bismillah hirrahman nirrahim. Trisan sebelumnya terima kasih atas permintaan pinangan kamu, aku menghargai niat baik kamu, tapi kamu harus tau sebenarnya aku sudah ada yang melamar juga, tapi belum aku jawab juga, jadi aku minta kamu untuk kasih aku waktu tiga hari untuk memutuskan semuanya.”
Trisan serasa di sambar petir di siang bolong mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Alila. Nampaknya do’a Alila di kabulkan, ternyata Allah Subhan nahuwata’ala juga punya rencana di balik semuanya, yaitu menguji Alila dengan dua orang laki-laki yang meminangnya. Kebingungan terus menghinggapi Alila.

***

Alila terlihat cantik dengan hijab berwarna pink mengulur panjang menutupi tubuhnya, dia juga mengenakan gamis berwarna abu-abu. Malam ini ternyata seorang yang mau meminang Alila waktu itu, akan datang malam ini untuk meminang Alila.
Perasaan Alila semakin tidak karuan, banyak hal yang dipikirkannya. Ternyata seseorang yang di tunggu pun sudah datang.
“Ibu guru.” Panggil seorang anak yang sudah tidak asing lagi bagi Alila.
Alila tersenyum menanggapi panggilan Ditya. Ditya menghampiri Alila, dan Alila pun menyambutnya dengan hangat. Di pangkunya Ditya oleh Alila. Ternyata semua orang sudah berkumpul diruang tamu, mereka menunggu Alila untuk keluar dari kamarnya. Suasana ruang tamu tersebut seketika menjadi hening, melihat Alila mala mini yang nampak begitu cantik.
“Assalamua’alaikum wr.wb. Selamat malam umi dan abi dari Alila, sebelumnya perkenalkan dulu, saya Ibrahim orang tua dari Rifat, sebelumnya mungkin umi dan abinya Alila belum kenal kita siapa, tapi mungkin Alila sudah menceritakan siapa kita yang tidak lain adalah wali muridnya Ditya yang tidak lain adalah murid dari Alila..” Tiba-tiba ayah dari Rifat yang tak lain adalah om dari Ditya terhenti. ”Maaf kalo kami lancang datang secara tiba-tiba seperti ini dan langsung meminang Alila, tanpa kita pernah kenal sebelumnya, tapi kami sebagai orang tua hanya menjalankan kewajiban kami, yaitu menikahkan anak kami dengan seorang wanita yang dia pilih, dan Rifat memilih Alila sebagai pendamping hidupnya.”
“Terima kasih sebelumnya Pak Ibrahim atas kedatangannya kerumah kami. Iya memang Alila sudah menceritakan sedikit banyak tentang keluarga Pak Ibrahim, walau pun ia belum terlalu kenal dengan nak Rifat. Saya juga selaku orang tua yang mempunyai kewajiban menikahkan anak saya dengan laki-laki pilihannya hanya bisa menikahkannya tetapi soal keputusan Alila mau tau tidaknya itu semua dia yang memutuskan, saya sebagai orang tua hanya sebagai fasilitator saja karena yang akan menjalani hubungan ini mereka bukan kita.”
“Iya kita terima apa pun keputusan Alila, karena niat baik kita tidak memaksa Alila untuk menerimanya.”
“Maaf sebelumnya, Alila berterima kasih banget untuk kedatangan Bapak Ibrahim dan ibu beserta Rifat. Alila juga appreciate atas pinangan Rifat, Alila minta waktu tiga hari untuk memutuskan semuanya. Jujur saat ini bukan hanya Rifat yang meminta Alila, maka dari itu Alila harus shalat istikharah dulu, untuk minta petunjuk dari Allah. Alila harap bapak, ibu dan Rifat memaklumi keputusan Alila.”
Seketika suasana pun menjadi hening. Nampak keluarga dari Rifat menarik nafas panjang mendengar ucapan Alila. Dengan lapang dada Rifat pun menanggapi ucapan Alila.
“Jika memang begitu keadaanya insya Allah saya akan terima apa pun jawaban dari Alila.”

***

Pagi ini ujan begitu deras Alila yang sudah siap untuk berangkat mengajar pun terpaksa menunggu hujannya reda terlebih dahulu. Umi nya yang sedari tadi memperhatikan Alila dari ruang makan menghampiri Alila.
“Ndok kamu mau berangkat ngajar juga ujan-ujan begini?”
“Iya Umi, kasian anak-anak nanti mereka udah ujan-ujan begini tapi gurunya masa gak masuk.”
“Mau naik taksi kamu? Nanti umi panggilan Pak Badar biasanya kalo jam segini dia belum berangkat narik.”
“Boleh deh Umi, daripada Alila gak jalan-jalan.”
“Yaudah Umi telpon orangnya dulu yaa.”
Tidak lama setelah itu taksi yang di maksud pun datang, Alila segera pamit dan mencium tangan uminya.
“Alila jalan dulu ya Umi, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”

***

Saat turun dari taksi Alila melihat Rifat yang ternyata pagi ini mengantar Ditya ke sekolah. Seketika itu pun Rifat menghampiri Alila yang masih berdiri melihatnya.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Rifat.
Alila tersenyum dan menjawab salamnya.
“Wa’alaikumsalam.”
“Ngantar Ditya hari ini? Neneknya ke mana?” Tanya Alila membuka percakapan.
“Iya, neneknya ada kok tapi emang aku yang mau nganterin Ditya.”
Alila hanya tersenyum menanggapi ucapan Rifat. Cukup terlihat Alila begitu kaku berhadapan dengan Rifat.
“Ibu guru ayo kita masuk.” Ditya mencairkan suasana yang nampak kaku.
“Iya.” Alila segera pamit kepada Rifat.
Hari ini hujan nampaknya tidak ingin berhenti, cuaca yang mendung, langit yang mengabu-abu, dan matahari yang tidak berani menampakkan sinarnya membuat cuaca Jakarta hari ini cukup sejuk.
Alila duduk di pos satpam menunggu angkutan umum untuk menuju pulang kerumahnya. Dari luar gerbang sekolah nampak seorang pria yang ia kenal berjalan menuju ke arahnya.
“Kamu belum pulang?” Tanya Rifat yang saat itu sudah berada di hadapannya.
“Iya belum mas, aku masih nungguin angkot.” Jawab Alila singkat.
“Kalo kamu mau dan nggak keberatan aku boleh nganterin kamu pulang?”
Alila diam sejenak mendengar ajakan Rifat. Di lihat sekelilingnya dan kearah luar sekolah tidak ada satu angkot pun yang lewat.
“Tapi apa aku nggak ngerepotin mas?” Tanya Alila ragu.
“Ya ampun Alila nggak kok, kan aku yang nawarin kamu, soalnya ujan kayak gini bahaya juga kalo kamu naik angkot.”
Tanpa pikir panjang Alila pun akhirnya menerima ajakan Rifat. Sepanjang perjalanan pulang kerumah Alila, suasana di hangatkan oleh celotehan Ditya.

***

Alila melihat ke seluruh arah, tidak ada satu orang pun, Alila nampak seperti orang tersesat, nampak sekali dari raut wajahnya ia seperti kebingungan dan ketakutan.
“Ya Allah aku dimana ini? Kenapa sepi begini?”
Tidak henti-hentinya Alila berdoa, tangannya terus berdzikir mengucap asma-Nya. Dari kejauhan samar-samar dilihatnya ada seorang pria yang berjalan menuju kearahnya, Alila terus memperhatikan sosok itu hingga terlihat jelas. Dilihatnya orang yang sudah sangat dia kenal, Alila tersenyum kearah pria tersebut, pria tersebut kini telah berada di hadapannya. Sementara saat Alila ingin mendekat dengan sosok tersebut, terdengar suara pria lain memanggil namanya dari kejauhan, Alila mencari sosok tersebut suaranya cukup asing, karena memang Alila tidak mengenali suara tersebut.
“Alila.” Panggil sosok tersebut, yang kini telah berada di hadapannya. Alila terkejut kini ada dua sosok pria yang berada di hadapannya.
“Maafkan aku Alila sepertinya takdir aku bukanlah sama kamu.” Ujar sosok yang sedari tadi memanggilnya. Lambat laun sosok itu pun menghilang dari hadapannya dan dari pandangannya. Kini hanya tinggal Alila dan sosok pria yang cukup ia kenal, pria tersebut meraih tangan Alila kemudian menciumnya.
“Aku ingin kamu menjadi bidadari ku di dunia dan di akhirat.” Ujar pria tersebut dengan begitu lembut.
Alila hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, menanggapi ucapan sosok pria tersebut.
Kringggg kringgggggggg kringggggg terdengar suara alarm ponsel alila yang berdering, Alila yang masih tertidur nyenyak seketika itu langsung terbangun. Dilihatnya jam di ponselnya, waktu menunjukkan pukul 04.45 pagi.
“Astaghfirullah hal adzim ternyata aku mimpi, ya Allah apa ini jawaban dari shalat istikharah ku?”
Alila segera beranjak dari ranjangnya untuk segera menunaikan shalat subuh.

***

“Umi.” Panggil Alila kepada uminya yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
“Iya nak, kamu mau berangkat sekarang?”
“Iya nanti dulu umi. Mi, Alila mau ngomong sesuatu sama umi.”
“Ada apa cah ayu, kok serius banget kayaknya.”
Alila menarik nafas panjang, kepalanya terunduk. Kemudian di tatapnya dalam-dalam wajah uminya dengan matanya yang sendu.
“Alila udah punya jawaban, siapa yang akan Alila pilih khitbah nya umi.”
“Alhamdulillah. Kamu serius nak?”
“Insya Allah ini jawaban dari-Nya umi, Alila juga yakin kok umi.”
Perbincangan pagi itu cukup lama dan hampir membuat Alila terlambat datang mengajar.
Malam yang ditunggu Alila pun akhirnya tiba di mana ia akan menentukan pilihan siapa yang akan menjadi imamnya kelak. Rifat dan keluarganya datang untuk yang kedua kalinya dan siap atas jawaban Alila. Rifat nampak tegang atas apa yang akan Alila ucapkan.
Ke esokan malamnya Trisan dan keluarganya pun datang kerumah Alila, sama seperti Rifat dan keluarganya mereka datang untuk mendengarkan jawaban Alila.


***

Dua bulan kemudian…
Alila nampak cantik dan anggun dengan kebaya putih yang membalut tubuhnya beserta hijabnya, kini perasaannya campur aduk, dimana hari ini dia akan menikah dengan seorang pria yang selama ini dia cintai dan do’anya pun terkabul. Alila sudah tidak sabar menunggu kedatangan Trisan, sang calon suami yang masih dalam perjalanan, ponsel yang sedari tadi tidak lepas dari genggamannya agar mengetahui dimana calon imamnya sekarang berada.
Seorang kerabat dari Alila masuk dan menjemputnya untuk keluar kamar karena sang calon mempelai telah datang, kini perasaan Alila semakin tidak karuan, ia terus berdo’a agar acara pernikahannya lancar.
Kini dua anak manusia tersebut duduk bersampingan, ijab qabul pun telah di ucapkan oleh Trisan yang kini telah sah menjadi yang halal bagi Alila, betapa bahagianya Alila dapat menikah dengan seorang pria yang di cintainya dan di cintai pula.
Alila sempat putus asa, tidak pernah terfikir olehnya bahwa ia akan benar-benar menjadi istri dari Trisan, tidak sia-sia do’a yang ia panjatkan selama ini. Allah mengabulkannya dengan cara-Nya sendiri.