Rabu, 21 November 2012

Tentang Kemarin



Kalo bicara tentang kemarin pasti gak jauh dari kata "MASA LALU" iyaa emang setiap orang itu pasti punya masa lalu, mau buruk, baik, indah, sedih, sampai ke hal-hal konyol pasti semua orang pernah ngalamin. Gue cuma mau share sedikit aja tentang apa yang baru gue alamin (ajieelah berat banget dah kayak temen gue) sebenernya begini apa yang gue alamin akhir-akhir ini dan menjelang akhir tahun 2012 semuany udah gue alamin, dari yang mulai di PHP in mantan ahaha (eh nanti orangnya baca gak ya haha), di labrak pacarnya (ngenes pake banget), masalah keluarga yang cetar badai (gak pake ulala), suka sama cowok tapi jadiannya sama cowok lain, sampe putus (lagi), dan yang hampir berantem sama sahabat yang paling gue sayang, kerenkan coy ahaha. Gue gak bakal ceritain semuanya tapi gue bakal ceritain garis besarnya aja, tapi emmmmmmmmm kayaknya gue lebih interest cerita ke masalah putusnya gue sama dia (Red: Bambang) dan sahabat gue (Red: Feby) ini kenapa gue milih ceritain tentang mereka, ini ada hubungannya sama novel yang lagi gue bikin, gue lagi ngehayal tentang cerita sahabat yang jadian sama mantan sahabatnya sendiri, dan you know what? Kalo ada ungkapan "Nothing Happens By Accident" itu masih sedikit berlaku di gue, karena gue gak pernah nyangka apa yang gue bayangin dan itu terjadi sama gue dan sahabat gue sendiri, karena setiap cerpen yang gue buat selalu beradasarkan apa yang gue alamin dan gue bayangin, nah dan apa yang gua alamin saat itu ya itu kejadian langsung di gue, pasti lo yang baca bingung siapa siapa dan siapa. 

Jadi gini gue gak pernah nyangka kalo mantannya feby itu bakal ngaku dengan pedenya dia adalah pacar gue, dan kondisinya saat itu gue gak pernah kontek-kontekkan sama dia sama sekali singkat cerita semenjak gue ketemu lagi sama mantan pacar gue yang juga mantan pacarnya sahabat gue si bambang waktu gue ngadain acara buka bersama semenjak dari situ dia mulai gencar deketin gue dan mulai nembak gue (au udah berapa kali nembak gue) dan pada akhirnya gue terima, gue jujur sama feby dia sempet kecewa sama gue, tapi karena gue sayang banget sama dia gue ngomong berdua sama dia dari hati kehati dan banjir air mata, sampe-sampe orang-orang ngeliatan gue berdua yang main nangis-nagisan (gak pikirin) dan pada akhirnya kita baikan dan mesra lagi kayak dulu (I love you Feby). Trus kenapa gue putus sama si bambang yaa mungkin emang udah waktunya aja gue putus, kalo ditanya sayang atau nggak ya gue sayang, tapi kondisinya gue emang lebih baik putus kayaknya, emang sih sebentar banget tapi banyak hal yang bisa gue ambil dari dia. Kayaknya cukup yaa curhatan gue, besok gue bakal ngepost yang lebih mutu lagi daripada yang ini hehehe, See you coy :D

Bunga di Senja Hari




Senja nampak mendung di akhir penghujung sore ini, mata Bunga terlihat begitu kosong menatap langit senja sore ini, entah apa yang sedang di pikirkannya. Ikan-ikan kecil yang berada dikolam taman kecil rumahnya menjadi teman setianya. Teman setia ketika Bunga menanti dan menatap senja.
“Bunga” terdengar oleh Bunga ada seseorang yang memanggil namanya. Dilihatnya ada seorang wanita setengah baya namun tetap cantik dan anggun, yang berdiri di depan pintu menuju taman rumahnya. Wanita tersebut tersenyum kearah Bunga dan mengahampirinya.
“Kamu lagi apa nak? Kenapa sedih begitu wajah kamu?” Tanya wanita tersebut seraya mengusap kepala Bunga
“Aku nggak kenapa-kenapa kok bu. Bunga cuma lagi nikmatin senja aja bu” Ujar Bunga lirih.
“Kamu yakin? Mata kamu gak bisa bohong sayang” Ujar wanita itu dengan tatapan sendunya. Seketika itu juga Bunga langsung memeluk sang ibu begitu erat disertai tangisnya yang begitu sesak.

***

“Ih sumpah keren banget deh” Ujar Bunga mengungkapkan ekspresinya setelah menonton film
“Iya aku jadi mau nonton lagi, tapi yang 3D pasti lebih keren deh” Ujar Rama. Cowok berperawakan tinggi dan kulit kuning, yang mengenakan jeans disertai sweater panjang dengan sepatu vans berwarna biru ini, cukup seru berbincang-bincang dengan Bunga, mengenai film yang mereka lihat tadi.
“Ahhh aku juga mau lagi ram” Rengek Bunga seperti anak kecil. Rama menanggapi hanya dengan senyuman dan merangkul pinggang Bunga dengan lembut.
Malam ini menjadi sangat begitu indah untuk Bunga, setelah hampir dua bulan tidak bertemu dengan Rama yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Walaupun mereka sudah putus sekitar satu tahun yang lalu, tetapi komunikasi mereka tetap berjalan dengan baik, meski keduanya telah memiliki kehidupan yang lain. Bunga sadar Rama yang kini bukanlah miliknya lagi tetapi karena rasa sayang dan cintanya yang masih ada, ia tetap bertahan meski ia di anggap orang ketiga oleh kekasih Rama yang baru.

***
Lorong kampus yang begitu ramai dengan mahasiswa yang lalu lalang tak dihiraukan oleh Bunga dan Fika mereka berjalan tanpa berbicara satu sama lain, langkah mereka semakin cepat ketika mereka menaiki anak tangga satu persatu. Diliriknya jam tangan milik Bunga menunjukkan pukul 08.10 mereka sudah terlambat sepuluh menit. Kelas mereka yang berada di lantai lima cukup menguras tenaga mereka, dilihat pintu kelas sudah tertutup rapat, menandakan bahwa dosen yang mengisi kelas mereka pagi ini telah datang. Dibukanya pintu kelas secara perlahan.
“Excuse me Sir. May I join your class Sir?” Tanya Bunga dengan ragu.
“No” Jawab dosen itu dengan singkat ditambah dengan mimik wajahnya yang tidak bersahabat kepada para mahasiswanya.
Bunga dan Fika berjalan mundur, mereka juga melihat kearah para mahasiswa yang telah berada didalam kelas, suasana hening pun langsung menyergap Bunga dan Fika sebelum mereka berdua benar-benar keluar dari kelas tersebut.
“Sumpah ya tuh dosen pengen gue cincang tau gak” Ujar Fika dengan nada tinggi.
“Sabar ka hehe” Ujar Bunga santai.
“Loe juga pake segala lari naik tangga, udah tau gue pake hak tinggi gini, sakit nih kaki gue, ujung-ujungnya juga gak boleh masuk kan kita sama tuh dosen” Sambung Fika dengan wajah yang masih kesal karena kejadian tadi.
“Ya maaf Fika,kan gue takut telat, lagian loe demen banget sih pake heels gitu hahaha” Sahut Bunga dengan lembut disertai tawa khasnya.
“Tau ah. Bete gue sama tuh dosen” Ujar Fika dengan nada yang masih sewot. Bunga hanya tersenyum melihat wajah kesal Fika yang tak kunjung berubah sejak pagi tadi. Mereka berdua pun akhirnya memutuskan pergi kerumah Fika. Selama perjalanan mata Bunga terlihat begitu kosong, tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Fika memperhatikan Bunga dengan serius, tetapi Bunga tetap tidak sadar bahwa Fika sedang memperhatikannya.
“Bung Bunga” Panggil Fika dengan menepuk punggung Bunga. Lamunan Bunga pun buyar dengan tepukan Fika dipunggungnya. Dirapikannya rambut panjangnya, menandakan Bunga sedang salah tingkah.
“Loe kenapa sih?” Tanya Fika.
“Ehehe nggak kenapa-kenapa kok ka” Ujar Bunga dengan nada agak ragu.
“Bohong loe!” Seru Fika.
“Tau ah. Gue ngantuk ka, lama banget sih nyampe rumah loe” Ujar Bunga mengalihkan pembicaraan. 
Fika menghembuskan nafas, dia tahu ada yang aneh dari Bunga dengan sikapnya akhir-akhir ini. Akhirnya selama perjalanan kerumah Fika hanya music yang diputar di jazz milik Fika tersebut.

***
Bunga langsung menghempaskan tubuhnya diranjang ungu bergambar peri Tinkerbell milik Fika. Tatapannya masih kosong menatap langit-langit kamar Fika.
“Ka gue ngantuk banget. Gue mau tidur yaa, jangan gangguin gue.” Ujar Bunga lirih. Tidak lama setelah itu Bunga memejamkan matanya, nampak sekali guratan-guratan lelah dan sedih dari wajahnya ketika ia tertidur lelap. Fika terenyuh melihat perubahan sikap sahabatnya akhir-akhir ini. Dia sadar Bunga bukanlah seseorang yang suka dipaksa dalam mengungkapkan sesuatu, Fika hanya akan menunggu saat Bunga akan menceritakan semua hal yang terjadi.
Fika memberanikan diri mengambil telepon genggam milik Bunga dari dalam tasnya, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya tersebut. Betapa terkejutnya Fika melihat pesan masuk yang ada di telepon genggam Bunga, dibacanya satu persatu percakapan Bunga dengan seseorang tersebut.

***
Bunga masih terus menatap telepon genggamnya. Dia berharap ada seseorang yang menelponnya atau mengirimkan pesan singkat walau hanya sekedar menyapanya dengan “hai”.
“Ih nyebelin banget sih sms gue kek” Gumam Bunga dalam hatinya. Setelah hampir 2 jam berkutat dengan telepon genggamnya yang sepi seperti tidak ada kehidupan tersebut, akhirnya Bunga memutuskan untuk membuka account facebook dan twitternya hanya untuk sekedar mengecek. Betapa terkejutnya ketika Bunga melihat di beranda pertama akun facebooknya, terlihat foto seseorang yang begitu ia kenal sedang berfoto mesra dengan seorang perempuan, yang tak lain adalah pacar dari sosok laki-laki tersebut. Tangan Bunga gemetar, jantungnya seperti berhenti berdetak, matanya berkaca-kaca. Bunga membenamkan kepalanya diantara bantal dan boneka-boneka yang ada di ranjangnya tersebut. Bunga berteriak, dadanya kini sesak perasaan kecewa dan marah menyatu didadanya.
Malam pun seperti merasakan apa yang dirasakan oleh Bunga, suara petir yang terdengar begitu jelas menambah tragis apa yang dirasakan Bunga, langit malam pun begitu kelam tidak seperti biasanya, Bulan yang bulat bersembunyi dibalik awan malam yang kelam, seakan menutupi ketakutan dan kesedihannya.

***
“Mata kamu kenapa nak?” Tanya ibu Bunga lembut.
“Nggak kenapa-kenapa kok bu, Cuma kurang tidur aja” Ujar Bunga singkat yang berusaha menyembunyikan wajah sembapnya dengan rambut panjangnya.
“Kamu yakin?” Tanya ibu Bunga sekali lagi untuk memastikan kondisi anaknya.
Bunga hanya mengangguk dengan senyum simpulnya.
“Ibu, Bunga pamit ya” Ujar Bunga seraya mencium tangan Ibunya. Wanita setengah baya itu nampak begitu sedih melihat perubahan sikap anaknya yang tiba-tiba menjadi tertutup tersebut. Pandangan wanita tersebut masih memandang kearah Bunga pergi walau Bunga sudah hilang dari pandangannya.
“Ibu ngerasain apa yang kamu rasain nak” Ujar ibu Bunga kepada dirinya sendiri.

***
Telepon genggam milik Bunga berdering, dilihatnya ada panggilan masuk dengan nama “Rama” matanya terbelalak lebar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, nafasnya menjadi tidak teratur, ditekannya tombol penjawab panggilan masuk tersebut.
“Halo” Sapa Rama dari seberang sana.
“Iya halo” Jawab Bunga dengan nada lirih.
“Kamu dimana?” Tanya Rama dengan antusias.
“Dikampus, kenapa?” Jawab Bunga singkat.
“Pulang jam berapa kamunya?” Tanya Rama.
“Jam 2” Jawab Bunga datar.
“Kamu kenapa sih kok jutek banget sama akunya? Nggak suka aku telpon nih, yaudah deh” Ujar Rama dengan nada memelas.
“Aku lagi gak enak badan” Ujar Bunga singkat.
Tiba-tiba sambungan telpon terputus, dilihatnya ternyata telpon genggam milik Bunga mati. “lowbat” gumam Bunga. Dimasukkannya telepon genggamnya. Tatapannya begitu kosong, matanya yang masih agak sembap membuat wajahnya semakin terlihat kusut. Dari kejauhan terlihat seorang gadis memperhatikannya dengan seksama, gadis itu tidak menghampiri Bunga. Air mata Bunga tiba-tiba terjatuh, segera dengan cepat Bunga menyeka air matanya. Ditarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. “ya Tuhan jika ini takdir-Mu kuatkan aku, bantu aku untuk menjauhinya. Aku terlalu bodoh jika aku masih mengharapkannya” gumam Bunga dalam hatinya.

***

Fika memarkirkan mobilnya tepat didepan kampus Rama, matanya berusaha mencari sosok Rama, hingga akhirnya ia melihat Rama dan segera berlari keluar dari mobilnya untuk menemui Rama. Rama terkejut ketika melihat Fika yang berada di area kampusnya.
“Fi… Fi… Fika?” Ujar Rama terbata-bata.
“Iya” Jawab Fika diikuti senyum sinisnya.
“Kok loe bisa ada disini?” Tanya Rama bingung.
“Kenapa emangnya? Kaget ya?” Ujar Fika sinis.
“Ya iyalah hahaha” Ujar Rama santai seraya tertawa terbahak-bahak.
“Gue ada perlu sama loe sebentar, bisa ikut gue?” Tanya Fika tegas.
“Ada apaan ka emangnya?” Tanya Rama balik.
“Loe bisa nggak?” Tanya Fika ketus.
Rama terdiam sejenak, pikirannya begitu banyak menimbulkan pertanyaan tentang kedatangan Fika, ia pun semakin penasaran ketika Fika memintanya untuk meluangkan waktunya sejenak, tanpa pikir panjang pun akhirnya Rama mengiyakan ajakan Fika.
“Oke deh” Ujar Rama datar.
Rama mengajak Fika ke salah satu café yang tidak jauh dari kampusnya.
“Loe mau pesen apa ka?” Tanya Rama.
“Air mineral aja deh” Jawab Fika datar.
Rama pun memesan minuman dan camilan untuk mereka berdua. Fika terlihat begitu gelisah, tangannya daritadi tidak berhenti mengepal, seperti menahan sesuatu.
“Loe kenapa ka?” Tanya Rama yang sudah kembali ketempat duduknya.
“Nggak penting gue kenapa. Gue mau to the point aja deh ram” Ujar Fika ketus.
To the point? Apa ka?” Tanya Rama bingung.
Fika menarik nafas sesaat, matanya menatap tajam kearah Rama.
“Loe ngapain Bunga?” Tanya Fika dingin.
“Hah? Maksud loe apa?” Tanya Rama balik, nampak gugup dari wajah Rama ketika mendengar pertanyaan Fika.
“Perlu gue ulang?” Ujar Fika dengan nada yang semakin dingin ditambah ekspresi wajah yang tidak bersahabat.
“Nggak gue apa-apain” Ujar Rama datar.
“Lo tuh…” Ujar Fika dengan nada tertahan, dikepal kedua tangannya erat-erat. Rasanya Fika ingin sekali memukul wajah cowok yang ada dihadapannya ini, tapi ia harus dapat mengontrol emosinya.
“Emang Bunga ngomong apa sama loe?” Tanya Rama.
“Dia nggak ngomong apa-apa” Jawab Fika dingin.
Mereka berdua terdiam, suasana berubah menjadi dingin, walaupun saat itu cuaca diluar sangat panas tapi sepertinya tidak terasa oleh mereka berdua. Fika menarik nafasnya untuk yang kesekian kali.
“Kalo loe cuma mau manfaatin Bunga mendingan loe jauhin dan tinggalin dia aja deh, toh kalian juga udah nggak ada hubungan kan? Nggak usah kasih dia harapan-harapan yang gak mungkin ram. Loe cowok kan? Bukan banci kan?” Ujar Fika panjang lebar. Kata-kata Fika yang terakhir sontak membuat Rama terkejut.
“Maksud loe apa? Bisa nggak loe jaga ucapan loe itu? Nggak usah ikut campur urusan pribadi gue deh, loe bukan siapa-siapa!” Seru Rama dengan nada tinggi.
“Gue sahabat Bunga, yang nggak lain adalah mantan loe. Apapun yang menyangkut tentang dia itu urusan gue, loe nyakitin dia berarti loe juga harus berurusan sama gue. Karena gue sayang Bunga!” Ujar Fika dengan nada tidak kalah tingginya dengan Rama.
Rama terdiam mendengan ucapan Fika, kali ini Rama yang menarik nafas. Kepalanya seperti mau pecah mendengar ucapan Fika yang terlalu mencampuri urusan pribadinya. Matanya menatap tajam kearah Fika, wajahnya mulai memerah pertanda Rama sedang menahan emosinya yang tengah memuncak.
“Kenapa diem? Gue tau apa yang udah loe lakuin sama Bunga. Loe tau, sekarang dia jadi pendiam semenjak loe sama dia terakhir ketemu, gue tau apa yang loe berdua lakuin, gue tau apa janji-janji loe sama dia, gue juga tau…” Ujar Fika tertahan, matanya mulai berkaca-kaca sesegera Fika menyeka air matanya yang hampir jatuh.
“Sumpah ya loe itu cowok paling kurang ajar yang pernah gue kenal, kalo aja loe tau dia seperti apa sayangnya sama loe, tapi sayangnya loe terlalu bodoh buat nyia-nyiain dia yang begitu tulus. Kalo loe cuma mau ngambil apa yang berharga dari dirinya, loe langkahin mayat gue dulu!” Sambung Fika menahan sesak, kepalanya terasa mau pecah, dadanya sesak dipenuhi emosi yang begitu memuncak.
“Kalo Bunga kenapa-kenapa loe yang gue cari!” Ujar Fika mengakhiri ucapannya dan segera meninggalkan Rama yang masih terdiam mendengar ucapan Fika.
Sementara Fika sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, ia menangis begitu sesak saat setelah berada didalam mobilnya, dinyalakan mesin mobilnya dan segera Fika memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

***
Kamar Bunga yang tidak terlalu besar begitu terasa dingin malam ini, jendela kamar yang dibuka dengan lebar sengaja dibukanya, mata Bunga menatap kearah langit malam yang terlihat nampak biru dengan barisan bintang-bintang yang menghiasinya, disertai bulatnya bulan malam ini. Air mata Bunga seketika jatuh, wajahnya terlihat begitu murung. Bunga menghabiskan malam hanya dengan terdiam menatap langit malam ditambah hembusan angin malam yang semakin membuat suasana hati Bunga menjadi bertambah dingin. Tidak di indahkannya telpon genggamnya yang sedari tadi berdering. Terdengar suara wanita yang begitu Bunga cintai mengetuk pintu kamarnya dan memanggil namanya, segera dihapus air matanya, langkahnya begitu berat ketika harus membuka pintu kamarnya.
“Iya bu” Jawab Bunga yang sudah berdiri didepan kamarnya.
“Ada yang mau ketemu sama kamu tuh” Ujar ibu Bunga Dingin.
“Siapa?” Tanya Bunga datar.
“Temuin aja” Ujar ibu Bunga singkat dan kemudian meninggalkan Bunga.
Bunga langsung menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya, langkahnya terhenti ketika dirinya melihat sosok yang begitu ia kenal, jantungnya seketika seperti berhenti berdetak, perutnya terasa sakit, kepalanya terasa pusing. Masih dalam posisi yang sama Bunga masih terpaku menatap sosok tersebut. Langkahnya bertambah berat ketika harus mengahmpiri sosok tersebut.
“Ada apa? Kok tumben dateng malem-malem?” Tanya Bunga lembut.
Rama terkejut melihat wajah Bunga yang begitu lesu nampak sekali kesedihan yang terpancar dari wajah manis Bunga ditambah mata Bunga yang agak sedikit sembap.
“Kamu kenapa? Kok mata kamu bengkak gitu?” Tanya Rama khawatir.
Bunga tersenyum.
“Aku? Nggak apa-apa kok” Ujar Bunga berusaha menutupi semuanya.
Rama mendekat dan mencoba menggenggam tangan Bunga, tidak ada penolakan dari Bunga.
“Kamu kenapa Rama? Ada apa kerumah aku?” Tanya Bunga heran.
Rama tidak menjawab pertanyaan Bunga, tatapannya begitu tajam menatap Bunga, membuat Bunga salah tingkah, tanpa Bunga duga Rama memeluknya begitu erat, Bunga bertambah heran dan tanpa ia sadari ternyata air matanya telah jatuh.
“Maafin aku yaa” Ujar Rama yang masih memeluk Bunga.
“Ma ma maaf kenapa?” Tanya Bunga bingung, air matanya tambah deras mengalir membasahi pipi Bunga dan punggung Rama, sepertinya Bunga telah mengetahui apa yang akan dikatakan Rama, begitu kuat perasaannya bila menyangkut tentang Rama.
Rama melepaskan pelukannya, dilihatnya Bunga yang masih menangis. Bunga tertunduk mencoba menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri dengan air mata, disentuhnya dengan lembut dagu Bunga yang lancip oleh Rama, kemudian di tegakkannya wajah Bunga agar menghadap kearah Rama. Baru kali ini selama Rama mengenal Bunga, baru kali ini dirinya melihat Bunga menangis begitu sesaknya, dihapusnya air mata Bunga dengan tangannya.
“Maafin aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Jujur aku masih sayang sama kamu tapi…” Ucapan Rama terhenti. Ditariknya nafasnya dalam-dalam, kemudian melanjutkan perkataannya kembali. “Tapi aku udah komit untuk milih dia, aku bukan yang terbaik buat kamu, aku nggak mau ngecewain kamu terus, maafin aku kalo selama ini aku sering ngasih harapan yang nggak pasti. Untuk kejadian kemarin aku minta maaf, cowok sebejat aku gak pantes milikin kamu. Kamu terlalu baik buat aku” Ujar Rama panjang lebar.
Bunga tidak merespon ucapan Rama, dia hanya terdiam bulir-bulir air matanya semakin deras membanjiri wajahnya, dadanya semakin sesak mendengar ucapan Rama. Begitu rapuhnya Bunga, hingga Rama tidak berbicara lagi, Rama salah tingkah mengahadapi Bunga yang masih terus menangis, di peluknya kembali Bunga begitu erat. Cukup lama Rama memeluk Bunga, hingga akhirnya Bunga dapat menghentikan tangisnya. Dilepaskannya pelukan Rama, ditariknya nafas panjang dan begitu dalam, mata sembapnya menatap Rama begitu tajam walaupun nampak sembap. Rama pun menatapnya balik dengan tatapan mata yang begitu teduh.
Bunga tersenyum kearah Rama. Di arahkannya jari kelingking kanannya kearah Rama. Nampak kebingungan dari wajah Rama.
“Best Friend” Ujar Bunga disertai dengan senyum manisnya.
Rama terkejut mendengar ucapan Bunga. Tanpa mengeluarkan satu kata pun Rama mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Bunga, di sertai dengan senyumnya yang diliputi tanda tanya besar dikepalanya, mengenai apa yang sebenarnya yang ada di dalam hati dan pikiran Bunga.

***

Senja nampak mendung di akhir penghujung sore ini, mata Bunga terlihat begitu kosong menatap langit senja sore ini, entah apa yang sedang di pikirkannya. Ikan-ikan kecil yang berada dikolam taman kecil rumahnya menjadi teman setianya. Teman setia ketika Bunga menanti dan menatap senja.
“Bunga” terdengar oleh Bunga ada seseorang yang memanggil namanya. Dilihatnya ada seorang wanita setengah baya namun tetap cantik dan anggun, yang berdiri di depan pintu menuju taman rumahnya. Wanita tersebut tersenyum kearah Bunga dan mengahampirinya.
“Kamu lagi apa nak? Kenapa sedih begitu wajah kamu?” Tanya wanita tersebut seraya mengusap kepala Bunga
“Aku nggak kenapa-kenapa kok bu. Bunga cuma lagi nikmatin senja aja bu” Ujar Bunga lirih.
“Kamu yakin? Mata kamu gak bisa bohong sayang” Ujar wanita itu dengan tatapan sendunya. Seketika itu juga Bunga langsung memeluk sang ibu begitu erat disertai tangisnya yang begitu sesak.
“Aku kangen ayah bu, besok kita kemakam ayah ya bu” Pinta Bunga dengan suara sedikit serak.
Bunga semakin erat memeluk sang ibu, kini hanya sang ibulah yang menjadi penguatnya, Fika sang sahabat juga menjadi seseorang yang selalu mensupportnya walau dengan kebawelannya karena Fika begitu sayang kepada Bunga. Senja hari ini begitu sendu untuk Bunga karena hari-harinya harus banyak dibasahi dengan air matanya. Tapi kini ia harus belajar membiasakan diri menganggap Rama laki-laki yang ia cintai bahagia dengan orang lain dan menjadikannya sahabat terbaiknya selain Fika.