Mataku nanar melihat kearah langit sore ini
Menunggu senja yang menjingga
Tetapi nampaknya senja hari ini tak menjingga
Nampak mendung bahkan menghitam
Tapi aku masih mengharapkan senjaku menjingga
Tidak sedikit pun aku ingin beranjak dari tempatku menunggu jingganya senja
Mataku masih menatap langit sore itu
Aku mulai kecewa saat habisnya senja yang tak kunjung menjingga
Matahari sudah benar-benar kembali ke peraduannya
Langit semakin menghitam
Tetapi mataku tak lepas untuk terus memandang kelangit yang gelap itu
Mulai nampak satu per satu setitik cahaya kelap kelip dilangat yang hitam itu
Jingganya senja tak ku dapat
Tetapi aku mendapat banyak kelap-kelip cahaya dari langit yang hitam itu
Samar-samar ku dengar suara gemuruh menggaung di langit
Kilatan cahaya nampak jelas dan sesaat menerangi jagat raya ini
Aku mulai beranjak pergi meninggalkan langit malam yang menghitam
Wangi khas bumi yang basah pun mulai menghinggapi penciuman ku
Kulangkahkan kaki dan ku berjalan melewati rumput-rumput yang sedang berbisik
Aku menghentikan langkah ku diantara rumput-rumput itu
Aku masih terdiam pada posisiku
Satu per satu perlahan tapi pasti air langit itu membasahi ku
Ku pejamkan mata
Seketika ada yang menyergap secara paksa pikiranku
Rasa dingin itu seketika berubah menjadi apa yang ada dipikiranku
Mataku masih terpejam
Tetapi seperti ada hal nyata ketika aku memejamkan mata
Aku terus berkutat dengan hal yang ada dipikiranku
Aku mulai membuka mata
Aku melihat sosok yang sedari tadi menyergap pikiranku secara paksa
Sangat jelas dan sangat dekat
Senyum simpulya terlihat jelas
"Akulah pengganti jingganya senjamu" Sosok itu berkata lantang padaku
Aku masih terdiam dalam posisiku
"Senjaku menghitam dan kamu yang menggantinya dengan malam yang menghitam"
Direngkuhnya tubuhku dengan erat dan satu kecupan hangat mendarat di keningku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar